Selasa, 15 November 2022

Istana Niat Lima Laras, Jejak Pengaruh Minangkabau di Pantai Timur Sumatera

Istana Niat Lima laras



Rumah ini sungguh tidak ada duanya. Ia menjadi bukti kehebatan seorang saudagar besar yang lahir di Batu Bara.

Melihat kejayaan rumah sang Datuk, teringat pesan orang Melayu: pantang berutang. Kekayaan dan kemegahan yang tercermin pada bangunan ini lahir dari hasil kerja keras, bukan dari beban hutang.

Bangunan ini dikerjakan oleh para pekerja Tionghoa. Pertanyaannya, bagaimana mereka bisa didatangkan? Perlu dipahami bahwa masyarakat Tionghoa telah hadir dan merantau di Nusantara selama berabad-abad, terutama sebagai pedagang dan tenaga ahli bangunan.

Catatan Sejarah yang Perlu Diluruskan

Pada tanggal 29 Juli 1910, nama Lima Laras diambil sebagai kenangan atas Lima Lareh di Sumatera Barat, yang merujuk pada sidang Lima Raja. Sebelumnya, kelima raja tersebut merupakan perantau Minangkabau yang berasal dari Limo Lareh dan berlabuh di Kuala Lima Dolok pada akhir abad ke-15.

Seorang cerdik pandai bernama Datuk Indrapura menetap di Simpang Dolok hingga keturunannya yang ke-11, Datuk Ingah Mansur. Ke arah selatan, menuju Tanah Datar, terdapat keturunan bernama Wan Sahroni. Keturunannya kemudian menetap di Bengkalan dengan gelar Datuk Semuangsah.

Ke arah Kampung Alai, wilayah ini dikunjungi oleh Datuk Cik Ayung hingga keturunan ketujuh. Keturunan kedelapan berpindah ke Kampung Pinang, wilayah Kampung Sentang, hingga generasi kesembilan, yaitu Haji Ja’far, yang kemudian memperluas pengaruhnya ke Kampung Dolok dan mendirikan rumah raja di Cempaka Biru.

Keturunan kesepuluh, Datuk Mat Yuda, pada tahun 1883 dikenal sebagai saudagar ulung yang berdagang hingga ke Malaysia dan sepanjang jalur Selat Malaka. Ia memiliki tujuh kapal dagang yang menjadikannya sangat kaya. Uang logam hasil perniagaannya setiap tahun dijemur dan diminyaki agar tidak berkarat. Menjelang akhir hayatnya, seluruh usaha dagangnya dipercayakan kepada orang kepercayaannya, yang dalam istilah setempat disebut apik lempang.

Biaya pembangunan Istana Lima Laras sepenuhnya berasal dari hasil perdagangan Datuk Mat Yuda. Bahan bangunan utama berupa kayu berkualitas tinggi didatangkan dari Malaysia, seperti kayu merbau, bera-bera, dan meranti. Masyarakat setempat dilibatkan dengan menyediakan pelepah rumbia, sementara arsitek asli dari kedatukan—yang dikenal sebagai Ulung Bijak—dipanggil untuk merancang bangunan.

Pada masa itu, banyak orang Tionghoa merantau sebagai pekerja bangunan, karena mereka dikenal memiliki keahlian tinggi dalam pertukangan kayu dan seni pahat. Pembangunan Istana Lima Laras dimulai pada tahun 1907 dan selesai pada tahun 1912.

Pada tahun 1919, Datuk wafat dan digantikan oleh putranya. Namun, pada akhir masa pemerintahannya, terjadi persinggungan dengan peraturan kolonial Belanda, sehingga jabatannya dalam pemerintahan kedatukan dicopot dan digantikan oleh seorang Syahbandar, yang menyebabkan kewenangan Datuk menjadi terbatas.

Pada tahun 1947, istana ini pernah dijadikan kamp Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Saat itu, Angkatan Darat dipimpin oleh Wakid Lubis, sedangkan Angkatan Laut dipimpin oleh Mayor Danrif Nasution.

Bangsa Indonesia adalah Bangsa Yang diciptakan Untuk Besar, Formulanya saja yang belum terbentuk Rapi"

 

Jika pedati-pedati Jawa dan kapal-kapal Melayu berputar selaras, bangsa ini dapat menjadi sebuah superpower.
— Julizar Muttaqin

Borobudur: saksi bisu kemajuan peradaban Nusantara

Bagi orang Melayu—baik di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, maupun dalam peradaban bahari—berlaku satu prinsip utama:
“Di dalam perahu, kita tidak pernah sendirian. Kita satu kapal, satu nahkoda; ada yang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.”

Barang siapa melanggar konsep pergaulan ini, bahkan sebelum Tuhan menjatuhkan hukuman, alam terlebih dahulu akan mengutuknya.

Melayu bermarwah di atas kapal masing-masing, bukan di atas mimbar yang disediakan.

Kerajaan Minanga telah tercatat dan dapat diakses secara terbuka, bahkan melalui Wikipedia, sebagai pengetahuan bagi pemuda-pemuda Melayu. Ia merupakan gugusan kapal dan perahu yang membentuk kedatuan Melayu, berpusat di Kampar, lalu berpindah-pindah untuk memperluas pengaruhnya. Pada masa Dapunta Hyang Sri Jayanasa, misi pengembangan peradaban bahari dilakukan dengan membawa sekitar 20.000 pasukan menuju Bumi Palembang.

Terdapat kesamaan mendasar antara Melayu dan Arab. Pola pergaulan Arab terbentuk dari penguasaan hamparan daratan melalui sistem kabilah, sementara Melayu menguasai hamparan lautan melalui kapal-kapal. Perbedaannya terletak pada sifat dan cara menjalankan kodrat masing-masing.

Saya lebih senang melihat orang Jawa dengan pedatinya dan orang Sumatera dengan perahu-perahunya. Itulah bentuk kodrat yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Jangan merasa paling benar sendiri dengan mengatakan bentuk Jawa salah atau bentuk Sumatera keliru. Bisa jadi, yang sedikit keliru adalah hati kita.

Konsep saya sederhana: ketika orang Jawa berjalan pada kodrat pedatinya, dan orang Melayu berjalan pada kodrat kapalnya, insya Allah kita akan menjadi bangsa yang besar, bahkan dihormati oleh bangsa-bangsa dunia. Semboyan Pancasila saja belum cukup jika tidak diisi dengan pemahaman atas kodrat yang telah Allah SWT tetapkan. Konsep ini memang berat diterapkan, tetapi percayalah, dunia ini bukan hanya milik para penjudi kehidupan.

Islam

Konsep Islam pada dasarnya sangat sederhana: konsep persahabatan. Sahabat saling mengingatkan dalam menegakkan risalah Rasulullah SAW. Namun, konsep ini sering berbenturan dengan hierarki buatan manusia, sehingga menimbulkan penolakan di berbagai penjuru.

Islam tidak menitikberatkan pada simbol-simbol kelompok, panji-panji perang, atau sekadar penghimpunan massa yang justru memecah umat menjadi kelompok-kelompok kecil. Konsep sahabat adalah konsep saling menghargai dan memahami pola pergaulan masing-masing: pergaulan kabilah, pergaulan kapal Melayu, dan pergaulan-pergaulan lainnya. Dari sinilah Islam mampu menembus lintas budaya dan tarekat. Tidak mustahil, kekokohan Islam justru terpancar dari isyarat Ilahi yang sejak awal telah terwujud dalam pola pergaulan leluhur berbagai suku bangsa.

Dalam masyarakat Melayu tidak dikenal sistem kasta. Karena itu, agama Buddha pernah diterima oleh leluhur kita. Sikap ini menurun kepada generasi berikutnya. Tak heran, banyak ulama Melayu—dari Sumatera hingga Sulu—lebih mengedepankan kesederhanaan. Ajaran mereka sarat kebijaksanaan, layaknya seorang nahkoda yang semakin banyak berlayar, semakin memahami dunia. Kepemimpinan pun tertanam kuat dalam diri ulama-ulama Melayu. Pada masa kolonial Belanda, para haji yang pulang dari Mekkah kerap diawasi karena peran mereka dalam pergerakan kemerdekaan.

Minangkabau, Melayu, Makassar, Bugis, Aceh, hingga wilayah Sumatera, Borneo, dan Sulu—selama masih berpola bahari—tetap menjadikan kapal sebagai bentuk pergaulan hidupnya. Yang membedakan hanyalah sifat dan karakter masing-masing. Itulah nikmat kodrat yang diberikan kepada kita, berbeda dengan kodrat Jawa yang bercorak agraris dengan simbol pedati.

Tergerusnya Melayu di Era Modren

Kita mengetahui bahwa masyarakat Sumatera, Sulawesi, Kalimantan hingga Filipina—dengan pengecualian Jawa—memiliki pola pergaulan yang terbentuk dari budaya bahari, yakni perahu dan kapal. Pola ini berbeda dengan pola Jawa yang tumbuh dari lingkungan agraris. Perbedaan tersebut membentuk identitas sosial yang beragam, namun tetap dalam satu ikatan persaudaraan.

Dalam era organisasi kapitalis, justru pola agraris sering kali lebih diuntungkan. Hal ini karena kapitalisme pada dasarnya berkembang melalui pembangunan pabrik dan industri yang “membaris­kan” manusia sebagai tenaga kerja. Oleh sebab itu, pada era modern dan industrialisasi, bangsa-bangsa seperti Cina, India, dan Jawa relatif lebih mudah beradaptasi dibandingkan masyarakat bahari seperti Melayu, jika dilihat dari pola kebudayaannya.

Meski demikian, terdapat sejumlah suku bangsa bahari yang hingga kini masih mampu mempertahankan pola “kapal” dan tetap bersaing dengan pola agraris. Di antaranya Minangkabau, Aceh, Palembang, Sulawesi, Makassar, Bugis, Ambon, dan lainnya. Walaupun mereka mungkin tidak mampu menjelaskan pola pergaulan tersebut secara teoritis, secara kasat mata pola warisan leluhur itu masih bertahan dalam kehidupan sosial mereka.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana Melayu bangkit?
Jawabannya adalah dengan mempertahankan pola kapal dan menyusun kembali “kapal-kapal Melayu” sebagai simbol kekuatan ekonomi, sosial, dan politik.

Perlu kehati-hatian terhadap pembangunan rel kereta api menuju Riau atau Aceh. Pembangunan semacam ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan juga membawa pola peradaban agraris—yang membelah masyarakat ke dalam kelas buruh dan borjuis.

Oleh karena itu, perlu segera didirikan banyak lembaga atau “kapal-kapal Melayu” sebagai basis kekuatan bersama. Rebut dan amankan tanah-tanah di Riau, serta bangun kolaborasi dengan saudara kita yang berpola agraris, yaitu Jawa, untuk mengelola tanah tersebut. Namun, hak kepemilikan tanah harus berada di tangan nahkoda-nahkoda Melayu. Bangun kepercayaan dengan berlandaskan prinsip keadilan.

Didik anak-anak Melayu di bidang hukum, kedokteran, dan angkatan laut. Sejarah mencatat bahwa satu pernyataan hukum Perdana Menteri Malaysia saat itu, Tunku Abdul Rahman, mampu mengalahkan seribu orasi Soekarno di hadapan persidangan PBB. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan hukum dan diplomasi memiliki dampak yang sangat besar.

Jangan sampai Riau bernasib sama dengan saudara-saudaranya di Sumatera Pantai Timur, sebab pembangunan rel kereta api dapat menjadi pintu masuk bagi peradaban agraris yang menggeser struktur sosial masyarakat bahari.

kenapa Melayu tidak Maju?

 

Mengapa Melayu Tidak Maju?

Jawabannya sederhana: karena hilangnya kodrat pergaulan kapal.

Sejak masa leluhur, Melayu lebih memilih Buddha dibandingkan Hindu. Hal ini bukan tanpa alasan. Budaya Hindu membentuk klaster agraris yang menempatkan petani sebagai kelas bawah, di bawah kaum ksatria dan cendekiawan, dengan peran hidup yang terbatas pada kerja bertani. Pola ini wajar berkembang di Jawa, yang secara kultural menyerupai pedati: satu kemudi, satu arah, dan penumpangnya cukup mengikuti irama—menyanyi dan bersuling—tanpa mempertanyakan kecepatan perjalanan, hanya boleh bertanya soal tujuan.

Berbeda dengan Melayu yang hidup dalam pola kapal-kapal. Setiap kapal memiliki kompasnya sendiri. Karena itu dibutuhkan seorang nahkoda yang benar-benar mengenal dirinya, agar mampu menjadi panutan bagi seluruh awak kapal. Inilah kodrat pergaulan Melayu.

Borobudur merupakan wujud kebijaksanaan Wangsa Melayu Kuno dalam mewujudkan kebesaran Datuk Besar dalam pandangan Buddha. Pembangunannya dikerjakan oleh saudara-saudara agraris—yang mayoritas Jawa—sebagai hasil dari kedaulatan dan pengaruh Sriwijaya. Karena itulah Raffles mengenal Borobudur melalui catatan Melayu Kuno.

Saya tidak percaya jika dikatakan bahwa saudara-saudara kita dari Jawa unggul dalam Angkatan Laut, sementara kita—sesama saudara—telah terbukti berjaya di lautan.
Malahayati dari Aceh,
Hasanuddin dari Makassar,
Raja Ismail dari Siak,
Arung Palakka dari Bugis,
dan masih banyak lainnya.

Karena itu, berdosalah negara-negara Melayu—baik Indonesia, Malaysia, maupun Singapura—jika tidak mendidik anak-anak Melayu menjadi perwira Angkatan Laut. Namun dosa yang lebih besar adalah para ibu Melayu yang mendidik anak-anaknya jauh dari kodrat yang telah ditetapkan Tuhan Yang Maha Bijaksana.

Melayu sejatinya tidak “bersatu”, melainkan berpadu. Bersatu hanya ada dalam partai-partai. Sejak kapan Melayu bersatu? Gagasan bersatu lahir dari cara berpikir nasionalisme dan komunisme yang tidak memahami kodrat Melayu sebagai kumpulan kapal yang berbaris, bukan massa yang dilebur.

Nasionalisme ala Eropa—yang dipelopori Soekarno—lebih relevan di tanah Jawa yang homogen dan agraris. Di tanah Melayu, gagasan ini justru menimbulkan benturan ideologis. Republiklah yang lebih dapat diterima, sebagaimana ditulis Datuk Tan Malaka dalam Naar de Republiek Indonesia. Peran Soekarno adalah menyatukan tokoh-tokoh Nusantara untuk membentuk negara baru, bukan memaksakan ideologi tertentu.

Ideologi yang Mengikis Melayu

  1. Nasionalisme (lahir dari Eropa, berbasis borjuis dan buruh)

  2. Komunisme (lahir dari kelas buruh Eropa)

  3. Sosialisme (lahir dari kelas borjuis Eropa)

  4. Radikalisme

Ideologi yang Selaras dengan Melayu

  1. Perpaduan, bukan persatuan

  2. Republik

  3. Perserikatan

  4. Islam

Inilah sebabnya orang Melayu di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan bergabung dengan Indonesia: karena kesamaan agama (Islam) dan bentuk republik. Sementara Malaysia terbentuk melalui perpaduan gugus-gugus kapal Melayu.

Barang siapa orang Melayu mengamalkan nasionalisme secara membuta, ia akan dikutuk oleh alam. Keturunannya akan menghadapi kemiskinan tanpa ujung, bahkan terputusnya nasab.

Mengapa orang Minang ikut berjuang di Jakarta dalam kemerdekaan RI? Karena para cendekiawan Minang yang mengenyam pendidikan Barat memiliki kepekaan tinggi terhadap penindasan kolonial. Mereka memperjuangkan kemerdekaan dengan kerangka pikir Barat—mengadopsi komunisme, filsafat Yunani, hingga trias politica Prancis. Pemikiran ini hanya relevan diterapkan di Jawa, yang saat itu menjadi pusat perbudakan industri kolonial.

Karena itu mereka berjuang di Jawa, bahkan di Deli seperti Tan Malaka. Namun di Deli, gagasan ini tidak berkembang luas, sehingga pusat perjuangan berpindah ke Jakarta. Setelah kemerdekaan, perbedaan sistem pemerintahan pun mencolok: Jawa yang homogen lebih diuntungkan oleh sistem terpusat, sementara luar Jawa tetap berpola kapal.

Hatta cenderung pada sistem parlementer dan federal, sedangkan Soekarno memilih sistem komando terpusat. Di tengah perbedaan itu, muncul tokoh Minang yang visioner: Muhammad Natsir, dengan Mosi Integral NKRI. Republik diterima luas oleh daerah-daerah luar Jawa karena lebih realistis dibanding nasionalisme yang menguntungkan masyarakat homogen.

Namun, seiring waktu, politik Indonesia bergeser. TNI menjadi alat politik Orde Baru yang otoriter, semakin merugikan Melayu—terutama di Selat Malaka—karena orang Melayu sulit dipaksa mengikuti sistem koordinasi terpusat ala Jawa. Muncullah “Melayu berekor” yang mengatasnamakan persatuan dan nasionalisme, namun kehilangan esensi pola pergaulan kaumnya sendiri.

Akibatnya, Melayu seperti kapal tanpa nahkoda. Awak bingung menentukan arah hidup dan politik, hingga banyak Melayu menjauh dari pusat kekuasaan.

Berbeda dengan Aceh. Mereka tetap mempertahankan pola kapal dan memperjuangkan keadilan berdasarkan sejarah. Aceh tidak pernah sepenuhnya ditaklukkan Belanda, bahkan pada masa Jepang. Hasan Tiro, sebagai Wali Nanggroe, setia pada pola pergaulan kapal, didukung ulama-ulama Aceh. Mereka membuktikan bahwa keadilan tidak harus dibawa dengan bendera nasionalisme. Perjuangan panjang itu akhirnya menghasilkan pengakuan Aceh sebagai daerah istimewa.

Kegagalan Hatta, Dalam Berdemokrasi adalah sulit untuk berbohong


 

Sejarah Pergerakan Idiologi Organisasi yang Ada Di Indonesia

 Julzar Muttaqin



Banyak cara yang dilakukan para pemuda dalam kegiatan organisasi untuk membebaskan bangsa dari kolonialisme Belanda dan Jepang. Akan tetapi, terdapat satu perhatian besar dari para orang tua terdahulu ketika mendengar nama Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini disebabkan ajaran Karl Marx yang dijadikan dasar ideologi untuk mengisi ruh pergerakan para kadernya, yang bertolak belakang dengan paham liberalisme yang dianut oleh sebagian besar negara kolonialis.

Pergerakan PKI di Indonesia bermula dari tokoh komunis di Belanda yang membentuk partai politik di Hindia Belanda. Tokoh terkenal tersebut adalah Henk Sneevliet, yang kemudian mengader banyak pemuda Hindia Belanda yang berpengaruh, seperti Semaun dan Darsono. Dari sinilah terbentuk ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging), yang lahir akibat tekanan tata tertib organisasi di kubu Sarekat Islam, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Haji Agus Salim dan HOS Cokroaminoto.

Setelah ISDV terbentuk, para pemuda yang telah dikader dan diperkenalkan pada ideologi komunis yang bersifat anti-kolonialisme, secara gencar melakukan publikasi melalui tulisan-tulisan perlawanan terhadap kolonialisme. Publikasi tersebut dimuat dalam surat kabar bernama Suara Rakyat. Namun, pada tahun 1924, nama organisasi ini diubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI), dengan tokoh penggerak utama seperti Tan Malaka dan Semaun.

PKI kemudian semakin aktif melancarkan gerakan anti-liberalisme yang dianggap sebagai praktik ekonomi yang memeras keringat rakyat melalui industri-industri milik kaum pemodal. Akibat aktivitas ini, banyak tokoh PKI yang harus melarikan diri dari kejaran polisi kolonial Belanda.

Pada tahun 1926, muncul perbedaan pandangan dan strategi perjuangan di tubuh PKI. Tan Malaka berseberangan dengan cara perjuangan Semaun. Tan Malaka tidak sepenuhnya menerima pemikiran Karl Marx secara bulat-bulat dan menolak pemberontakan yang dilakukan oleh Semaun dan Alimin. Pemberontakan tersebut mengakibatkan ribuan korban jiwa dan menyebabkan sejumlah tokoh partai diasingkan ke Boven Digul oleh pemerintah kolonial Belanda. Peristiwa ini menjadikan PKI sebagai partai terlarang, yang kemudian dikenal sebagai PKI Jilid I.


“Kegagalan Hatta dalam berdemokrasi adalah sulit untuk berbohong.”

Mohammad Hatta menggunakan cara-cara leluhur dalam berdiplomasi untuk meyakinkan para sultan Melayu agar memilih bentuk negara republik. Namun, beliau melupakan satu risalah penting tentang makna praktik demokrasi, yaitu seni berkompromi yang terkadang menuntut kebohongan politik. Hatta dikenal sebagai sosok yang sulit untuk berbohong. Akibatnya, pada tahun 1950, ia memilih keluar dari konsep Dwi Tunggal yang sebelumnya ia gagas bersama Soekarno.

Hal tersebut menyebabkan kaum nasionalis yang dipimpin oleh Soekarno tidak mampu sepenuhnya menjamin keutuhan negara yang telah mereka proklamasikan bersama. Dari kondisi inilah kemudian muncul Mosi Integral, yang digagas oleh seorang tokoh Melayu Minangkabau. Hingga saat ini, konsep tersebut tetap dipegang teguh dalam bentuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

 Samo omak

Pituah dari Beliau

Kelak ketika malaikat bertanya, yang ditanyakan bukanlah berapa banyak harta yang kita miliki, melainkan amalan apa yang telah kita perbuat.
Keindahan Tanjung Balai hari ini rusak karena manusia sibuk menyimpan harta, hingga melupakan nikmat Tuhan yang terus-menerus dialirkan melalui sungai ini tanpa henti.

Ibu pernah bercerita bahwa ia menyaksikan siaran dari Jepang: sebuah sungai dibagi menjadi dua aliran, satu untuk kebutuhan perkotaan dan satu lagi untuk kota-kota tua.
Hati saya merasa tenang karena pandangan itu sejalan dengan pemikiran ibu saya. Dalam siaran NHK, ditunjukkan bagaimana Kaisar Jepang membagi aliran sungai—sebagian untuk industri dan sebagian lainnya untuk permukiman.

Karena itu, saya berpesan kepada masyarakat Tanjung Balai: jangan memilih wali kota yang tidak memahami lingkungan. Pilihlah demi anak cucu kita, bukan demi kantong pribadi. Insya Allah, alam pun akan mendoakan kalian semua.





Benteng Barat berdiri kokoh di darat, tetapi Melayu membangun benteng yang hidup di lautan—kapal yang bukan hanya alat perang, melainkan simbol kedaulatan yang tak mudah ditaklukkan.

  Jika bangsa Barat dan Cina membangun benteng-benteng tinggi sebagai pusat pertahanan mereka—sebagai simbol kekuatan sekaligus perlindungan...