![]() |
| Istana Niat Lima laras |
Rumah ini sungguh tidak ada duanya. Ia menjadi bukti kehebatan seorang saudagar besar yang lahir di Batu Bara.
Melihat kejayaan rumah sang Datuk, teringat pesan orang Melayu: pantang berutang. Kekayaan dan kemegahan yang tercermin pada bangunan ini lahir dari hasil kerja keras, bukan dari beban hutang.
Bangunan ini dikerjakan oleh para pekerja Tionghoa. Pertanyaannya, bagaimana mereka bisa didatangkan? Perlu dipahami bahwa masyarakat Tionghoa telah hadir dan merantau di Nusantara selama berabad-abad, terutama sebagai pedagang dan tenaga ahli bangunan.
Catatan Sejarah yang Perlu Diluruskan
Pada tanggal 29 Juli 1910, nama Lima Laras diambil sebagai kenangan atas Lima Lareh di Sumatera Barat, yang merujuk pada sidang Lima Raja. Sebelumnya, kelima raja tersebut merupakan perantau Minangkabau yang berasal dari Limo Lareh dan berlabuh di Kuala Lima Dolok pada akhir abad ke-15.
Seorang cerdik pandai bernama Datuk Indrapura menetap di Simpang Dolok hingga keturunannya yang ke-11, Datuk Ingah Mansur. Ke arah selatan, menuju Tanah Datar, terdapat keturunan bernama Wan Sahroni. Keturunannya kemudian menetap di Bengkalan dengan gelar Datuk Semuangsah.
Ke arah Kampung Alai, wilayah ini dikunjungi oleh Datuk Cik Ayung hingga keturunan ketujuh. Keturunan kedelapan berpindah ke Kampung Pinang, wilayah Kampung Sentang, hingga generasi kesembilan, yaitu Haji Ja’far, yang kemudian memperluas pengaruhnya ke Kampung Dolok dan mendirikan rumah raja di Cempaka Biru.
Keturunan kesepuluh, Datuk Mat Yuda, pada tahun 1883 dikenal sebagai saudagar ulung yang berdagang hingga ke Malaysia dan sepanjang jalur Selat Malaka. Ia memiliki tujuh kapal dagang yang menjadikannya sangat kaya. Uang logam hasil perniagaannya setiap tahun dijemur dan diminyaki agar tidak berkarat. Menjelang akhir hayatnya, seluruh usaha dagangnya dipercayakan kepada orang kepercayaannya, yang dalam istilah setempat disebut apik lempang.
Biaya pembangunan Istana Lima Laras sepenuhnya berasal dari hasil perdagangan Datuk Mat Yuda. Bahan bangunan utama berupa kayu berkualitas tinggi didatangkan dari Malaysia, seperti kayu merbau, bera-bera, dan meranti. Masyarakat setempat dilibatkan dengan menyediakan pelepah rumbia, sementara arsitek asli dari kedatukan—yang dikenal sebagai Ulung Bijak—dipanggil untuk merancang bangunan.
Pada masa itu, banyak orang Tionghoa merantau sebagai pekerja bangunan, karena mereka dikenal memiliki keahlian tinggi dalam pertukangan kayu dan seni pahat. Pembangunan Istana Lima Laras dimulai pada tahun 1907 dan selesai pada tahun 1912.
Pada tahun 1919, Datuk wafat dan digantikan oleh putranya. Namun, pada akhir masa pemerintahannya, terjadi persinggungan dengan peraturan kolonial Belanda, sehingga jabatannya dalam pemerintahan kedatukan dicopot dan digantikan oleh seorang Syahbandar, yang menyebabkan kewenangan Datuk menjadi terbatas.
Pada tahun 1947, istana ini pernah dijadikan kamp Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Saat itu, Angkatan Darat dipimpin oleh Wakid Lubis, sedangkan Angkatan Laut dipimpin oleh Mayor Danrif Nasution.


