Senin, 26 Juni 2023

perlukah Restorasi di Indonesia"


 

Soekarno Mampu Memproklamasikan, Bangsa Ini Memerlukan Restorasi

Indonesia memiliki keanekaragaman suku bangsa yang sangat besar. Namun hingga hari ini, Negara Republik Indonesia belum sepenuhnya mampu mengelola dan memaksimalkan kelebihan masing-masing suku bangsa tersebut sebagai kekuatan nasional. Secara umum, para pemimpin negeri ini cenderung hanya mengeksplorasi seni dan budaya sebagai simbol, itupun belum terkelola secara menyeluruh dan berkelanjutan. Hal ini tampak dari lemahnya pengembangan kebudayaan dan pariwisata yang belum memiliki arah strategis jangka panjang yang mampu menembus dunia internasional.

Jika kita menengok tokoh-tokoh besar dunia seperti Nabi Muhammad SAW, Ratu Victoria, Genghis Khan, hingga Otto von Bismarck, kita dapat melihat satu kesamaan utama: mereka berhasil menyatukan bangsanya bukan hanya dalam pendirian negara, tetapi juga dalam cara hidup, irama sosial, dan orientasi peradaban.

Genghis Khan, misalnya, mampu membangun kekuatan kavaleri terbesar di dunia dengan memanfaatkan kebiasaan hidup masyarakat Mongol yang nomaden dan mahir berkuda. Keahlian memanah dari atas kuda yang telah menjadi budaya sehari-hari disatukan dalam satu sistem militer yang terorganisasi, menjadikannya kekuatan yang dikenang sepanjang sejarah.

Nabi Muhammad SAW berhasil meletakkan fondasi masyarakat madani dengan memahami struktur sosial bangsa Arab yang terbiasa hidup dalam kabilah-kabilah dagang. Melalui penekanan pada kejujuran, keadilan, dan kolaborasi antarkabilah—terutama melalui Piagam Madinah—lahirlah tatanan sosial baru yang menghapus perbudakan secara bertahap dan membangun sistem hukum serta etika perdagangan yang hingga kini tetap diajarkan.

Ratu Victoria (serta era kekaisaran Inggris di bawahnya) mampu merestorasi sistem perdagangan dan armada laut Inggris dengan perlindungan hukum yang kuat, sehingga mendorong perkembangan sains dan teknologi. Puncaknya adalah Revolusi Industri yang memodernisasi cara kerja masyarakat dan meningkatkan produktivitas secara masif.

Sebaliknya, Indonesia belum pernah memiliki pemimpin yang benar-benar melakukan restorasi cara hidup bangsa secara menyeluruh. Soekarno memang berhasil membawa bangsa ini pada Proklamasi Kemerdekaan, namun belum sempat atau belum mampu membangun embrio tatanan hidup bangsa yang berakar kuat dan berkelanjutan. Setelah proklamasi, arah pembangunan nilai, etos kerja, dan sistem kehidupan bangsa kerap terputus dan berubah-ubah hingga hari ini.

Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tidak sekadar piawai berorasi atau membangun simbol kebangsaan, tetapi mampu melakukan restorasi cara hidup nasional—menggali kekuatan lokal, menyatukannya dalam sistem ekonomi, sosial, dan politik yang utuh serta berjangka panjang.

Hanya dengan restorasi semacam inilah Indonesia dapat melahirkan pemimpin besar sebagaimana yang telah dicontohkan sejarah dunia.

Catatan:
Julizar Muttaqin



Senin, 12 Juni 2023

kelemahan tokoh politisi Indonesia memahami sejarah leluhur


 

Bangsa ini telah lama melupakan jejak dan kehebatan para leluhurnya. Siapa pun yang mampu menggali kembali, memahami, dan menerapkan nilai-nilai tersebut di masa depan, berpotensi menjadi pemimpin besar di negeri ini—bahkan mampu menandingi nama Soekarno dan Hatta.

Seperti Luhut Binsar Panjaitan, yang mungkin hanya mengenal dirinya sebagai mantan perwira. Namun, belum tentu ia menyadari bahwa bangsa Arab telah lama berdagang di Barus. Leluhur masyarakat Batak diduga telah terlibat dalam perdagangan hasil bumi yang dikirim hingga ke Timur Tengah dan bahkan ke Roma.

Seperti Megawati Soekarnoputri, yang dikenal sebagai putri Presiden pertama Republik Indonesia. Namun, tidak banyak yang menyoroti bahwa ibunya berasal dari Minangkabau, sebuah bangsa yang oleh Raffles disebut sebagai pewaris Sriwijaya dan sumber kekuatan Melayu (History of Sumatra).

Seperti Prabowo Subianto, yang memahami dirinya sebagai seorang ksatria yang setia kepada negara. Namun, ia seakan melupakan bahwa leluhur Jawa diwarisi sebuah pulau yang indah dan subur, berkat kesabaran dan keteguhan masyarakat Jawa yang tinggi dibandingkan bangsa lain.

Seperti Yusril Ihza Mahendra, yang dikenal sebagai cendekiawan andal. Namun, leluhur Melayu yang ia warisi memiliki tradisi organisasi maritim yang kuat, mampu membangun dan mengelola negara-negara maritim besar dan berpengaruh seperti Melaka, Siak, Asahan, Palembang, Aceh, dan lainnya.

Dan masih banyak contoh lainnya.

Oleh karena itu, teruslah menggali sejarah leluhur kita agar kita memahami akar persoalan bangsa ini, sehingga kita tidak terombang-ambing seperti kayu di lautan. Teruslah belajar, berkarya, dan berikan yang terbaik bagi keluarga, suku bangsa, dan negara.

Benteng Barat berdiri kokoh di darat, tetapi Melayu membangun benteng yang hidup di lautan—kapal yang bukan hanya alat perang, melainkan simbol kedaulatan yang tak mudah ditaklukkan.

  Jika bangsa Barat dan Cina membangun benteng-benteng tinggi sebagai pusat pertahanan mereka—sebagai simbol kekuatan sekaligus perlindungan...