Kita dapat melihat periode kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah yang beribu kota di Baghdad, di mana Islam berhasil membangun tata negara yang luar biasa dibandingkan era sebelumnya, seperti Dinasti Umayyah yang lebih menekankan ekspansi teritorial kekuasaan. Pada masa Abbasiyah inilah lahir banyak ilmuwan besar yang hingga kini temuannya masih dirasakan dan menjadi fondasi peradaban modern.
Di samping stabilitas politik yang kuat dengan kepemimpinan para khalifah dan sistem pemerintahan Islam yang mapan, kita juga dapat menyaksikan bagaimana persinggungan peradaban Arab dan Persia dipadukan menjadi sebuah mahakarya tata negara, hukum, dan kebudayaan yang luar biasa. Dari lingkungan peradaban inilah lahir tokoh-tokoh budaya dan sastra seperti Abu Nawas, menjadikan Abbasiyah sebagai simbol kejayaan kebudayaan Islam—bahkan peradaban Timur secara umum—yang pada masa itu melangkah lebih maju dibandingkan Eropa.
Kemakmuran Abbasiyah terasa di berbagai belahan dunia. Tidak sedikit kerajaan di luar dunia Islam merasa takjub terhadap keadilan dan kemajuan yang dibangun oleh peradaban Islam pada abad tersebut. Jutaan karya ilmiah lahir dalam bidang sains, astronomi, matematika, kedokteran, dan filsafat. Baghdad pun dikenal sebagai kota Seribu Satu Malam, tempat sejuta pengetahuan dan kenangan peradaban manusia tersimpan.
Namun, kejayaan itu runtuh pada masa pembumihangusan Baghdad oleh bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan, cucu Genghis Khan. Peristiwa ini menjadi awal periode kegelapan dalam sejarah Islam yang dampaknya masih terasa hingga kini. Perpustakaan-perpustakaan besar Abbasiyah dibakar, buku-buku ilmu pengetahuan dibuang ke Sungai Eufrat dan Tigris hingga air sungai dikisahkan menghitam oleh tinta. Yang tersisa hanyalah ilmu-ilmu yang dibawa oleh segelintir sarjana yang berhasil selamat dari pembantaian tersebut.
Masa kegelapan ini membuat stabilitas politik dunia Islam menjadi rapuh. Setelah wafatnya Genghis Khan, konflik terus berlanjut dan peperangan seakan menjadi satu-satunya jalan penyelesaian perselisihan. Dari kondisi ini lahir pemimpin-pemimpin militer Islam yang besar dan berpengaruh, seperti Alp Arslan, Timur Lenk, Bayezid I, Mehmed II, dan Sulaiman al-Qanuni. Namun, meskipun Kesultanan Utsmani berhasil membangun kekuatan militer yang dahsyat, mereka belum mampu menciptakan stabilitas intelektual dan keilmuan seperti yang pernah dicapai Dinasti Abbasiyah. Sistem hukum dan pemerintahan Utsmani lebih bertumpu pada kekuatan militer, sehingga relatif sedikit melahirkan ilmuwan sains dan pemikir besar.
Memasuki periode modern, peninggalan kejayaan Utsmani lebih banyak terlihat dalam bentuk bangunan-bangunan megah dengan arsitektur geometris yang menegaskan simbol kejayaan para pemimpin militer. Seiring waktu, Kesultanan Utsmani semakin tergerus oleh arus pemikiran baru dari Eropa, hingga akhirnya mengalami kemunduran dan runtuh. Puncaknya terjadi ketika gerakan nasionalis Turki Muda yang dipimpin Mustafa Kemal Atatürk mengakhiri kesultanan dan mendirikan Republik Turki.
Sementara itu, Eropa terus berbenah. Dengan berbekal pemikiran filsafat Yunani yang dipadukan dengan pemikiran Ibnu Rusyd (Averroes), lahirlah gagasan kebebasan individu sebagai cikal bakal liberalisme. Kekuasaan absolut kerajaan mulai dibatasi, seperti yang terjadi di Inggris dengan pembentukan parlemen sebagai pilar pemerintahan dan raja atau ratu sebagai kepala negara simbolik. Transformasi ini menjadi awal kemajuan besar peradaban Eropa dan melahirkan tokoh-tokoh industri seperti James Watt.
Peristiwa Revolusi Prancis—yang ditandai dengan eksekusi Raja Louis XVI di guillotine—menguatkan tuntutan persamaan hak dan penerapan Trias Politica. Gelombang perubahan ini mendorong masyarakat Eropa untuk menentukan arah kemajuan mereka sendiri, di mana setiap individu bebas berproduksi tanpa intervensi kekuasaan absolut, disertai penguatan sistem hukum dan politik. Tidak mengherankan jika Eropa kemudian mampu menjelma menjadi pusat peradaban dunia pada periode modern.