Selasa, 15 November 2022

Bangsa Indonesia adalah Bangsa Yang diciptakan Untuk Besar, Formulanya saja yang belum terbentuk Rapi"

 

Jika pedati-pedati Jawa dan kapal-kapal Melayu berputar selaras, bangsa ini dapat menjadi sebuah superpower.
— Julizar Muttaqin

Borobudur: saksi bisu kemajuan peradaban Nusantara

Bagi orang Melayu—baik di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, maupun dalam peradaban bahari—berlaku satu prinsip utama:
“Di dalam perahu, kita tidak pernah sendirian. Kita satu kapal, satu nahkoda; ada yang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.”

Barang siapa melanggar konsep pergaulan ini, bahkan sebelum Tuhan menjatuhkan hukuman, alam terlebih dahulu akan mengutuknya.

Melayu bermarwah di atas kapal masing-masing, bukan di atas mimbar yang disediakan.

Kerajaan Minanga telah tercatat dan dapat diakses secara terbuka, bahkan melalui Wikipedia, sebagai pengetahuan bagi pemuda-pemuda Melayu. Ia merupakan gugusan kapal dan perahu yang membentuk kedatuan Melayu, berpusat di Kampar, lalu berpindah-pindah untuk memperluas pengaruhnya. Pada masa Dapunta Hyang Sri Jayanasa, misi pengembangan peradaban bahari dilakukan dengan membawa sekitar 20.000 pasukan menuju Bumi Palembang.

Terdapat kesamaan mendasar antara Melayu dan Arab. Pola pergaulan Arab terbentuk dari penguasaan hamparan daratan melalui sistem kabilah, sementara Melayu menguasai hamparan lautan melalui kapal-kapal. Perbedaannya terletak pada sifat dan cara menjalankan kodrat masing-masing.

Saya lebih senang melihat orang Jawa dengan pedatinya dan orang Sumatera dengan perahu-perahunya. Itulah bentuk kodrat yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Jangan merasa paling benar sendiri dengan mengatakan bentuk Jawa salah atau bentuk Sumatera keliru. Bisa jadi, yang sedikit keliru adalah hati kita.

Konsep saya sederhana: ketika orang Jawa berjalan pada kodrat pedatinya, dan orang Melayu berjalan pada kodrat kapalnya, insya Allah kita akan menjadi bangsa yang besar, bahkan dihormati oleh bangsa-bangsa dunia. Semboyan Pancasila saja belum cukup jika tidak diisi dengan pemahaman atas kodrat yang telah Allah SWT tetapkan. Konsep ini memang berat diterapkan, tetapi percayalah, dunia ini bukan hanya milik para penjudi kehidupan.

Islam

Konsep Islam pada dasarnya sangat sederhana: konsep persahabatan. Sahabat saling mengingatkan dalam menegakkan risalah Rasulullah SAW. Namun, konsep ini sering berbenturan dengan hierarki buatan manusia, sehingga menimbulkan penolakan di berbagai penjuru.

Islam tidak menitikberatkan pada simbol-simbol kelompok, panji-panji perang, atau sekadar penghimpunan massa yang justru memecah umat menjadi kelompok-kelompok kecil. Konsep sahabat adalah konsep saling menghargai dan memahami pola pergaulan masing-masing: pergaulan kabilah, pergaulan kapal Melayu, dan pergaulan-pergaulan lainnya. Dari sinilah Islam mampu menembus lintas budaya dan tarekat. Tidak mustahil, kekokohan Islam justru terpancar dari isyarat Ilahi yang sejak awal telah terwujud dalam pola pergaulan leluhur berbagai suku bangsa.

Dalam masyarakat Melayu tidak dikenal sistem kasta. Karena itu, agama Buddha pernah diterima oleh leluhur kita. Sikap ini menurun kepada generasi berikutnya. Tak heran, banyak ulama Melayu—dari Sumatera hingga Sulu—lebih mengedepankan kesederhanaan. Ajaran mereka sarat kebijaksanaan, layaknya seorang nahkoda yang semakin banyak berlayar, semakin memahami dunia. Kepemimpinan pun tertanam kuat dalam diri ulama-ulama Melayu. Pada masa kolonial Belanda, para haji yang pulang dari Mekkah kerap diawasi karena peran mereka dalam pergerakan kemerdekaan.

Minangkabau, Melayu, Makassar, Bugis, Aceh, hingga wilayah Sumatera, Borneo, dan Sulu—selama masih berpola bahari—tetap menjadikan kapal sebagai bentuk pergaulan hidupnya. Yang membedakan hanyalah sifat dan karakter masing-masing. Itulah nikmat kodrat yang diberikan kepada kita, berbeda dengan kodrat Jawa yang bercorak agraris dengan simbol pedati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Benteng Barat berdiri kokoh di darat, tetapi Melayu membangun benteng yang hidup di lautan—kapal yang bukan hanya alat perang, melainkan simbol kedaulatan yang tak mudah ditaklukkan.

  Jika bangsa Barat dan Cina membangun benteng-benteng tinggi sebagai pusat pertahanan mereka—sebagai simbol kekuatan sekaligus perlindungan...