Sabtu, 14 Desember 2024

"Majapahit Yamin" menjadi petaka besar Bangsa Indonesia'

“Majapahit Yamin” dan Petaka Besar Bangsa Indonesia

Kita mengetahui bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan yang didirikan oleh Raden Wijaya, dengan wilayah teritorial yang pada masanya mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali. Namun, akibat konstruksi pemikiran yang dibangun oleh Muhammad Yamin, Majapahit kemudian diposisikan secara berlebihan dalam narasi kebangsaan, hingga pada akhirnya justru menjadi petaka besar bagi bangsa Indonesia dalam memahami makna NKRI yang sesungguhnya di era dewasa ini.

Perlu diketahui bahwa Muhammad Yamin merupakan Menteri Pendidikan pada era Presiden Soekarno. Ia lahir di Talawi, Sawahlunto, pada 24 Agustus 1903, sebagai putra Usman Baginda Khatib. Yamin meniti karier politik sejak masa pra-kemerdekaan bersama para pelajar dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk dalam peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda. Dalam perjalanan intelektualnya, ia banyak menulis kisah-kisah mengenai Majapahit dan Patih Gajah Mada.

Bersama Soekarno dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya, Yamin terlibat aktif dalam berbagai langkah propaganda politik untuk melawan kolonialisme Belanda di Pulau Jawa. Hal ini tidak terlepas dari posisi Jawa sebagai pusat administrasi dan ekonomi industri pada masa kolonial. Salah satu strategi propaganda awal yang digunakan adalah mengangkat figur Patih Gajah Mada dan narasi Majapahit sebagai legenda pemersatu Nusantara.

Tujuan utama Yamin dalam mengusung narasi Majapahit adalah membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat Jawa guna melawan kebijakan politik Belanda. Pada saat itu, Pulau Jawa memang menjadi pusat pergolakan besar kebangkitan kesadaran kemerdekaan, terutama dari kalangan terpelajar dan tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, serta banyak pemuda lainnya yang terus menggempur pertahanan kolonialisme Belanda.

Namun, dalam konteks Indonesia modern, narasi Majapahit tersebut kerap disalahgunakan seolah-olah menjadi solusi historis utama dalam membentuk NKRI yang sesungguhnya. Pemaknaan semacam ini justru melanggar nilai-nilai sejarah. Kita mengetahui bahwa pada era Majapahit terdapat kerajaan-kerajaan besar lain yang berdaulat dan diakui, seperti Kerajaan Melayu Adityawarman di Sumatra, serta berbagai kerajaan bahari di Sulawesi dan Maluku. Bahkan, Kerajaan Sunda Pajajaran tidak mengakui kedaulatan Majapahit.

Oleh karena itu, menjadikan Majapahit sebagai satu-satunya fondasi historis NKRI bukanlah pendekatan yang utuh. Sejarah Nusantara dibangun oleh banyak peradaban, kerajaan, dan identitas lokal yang setara dan saling berkontribusi.

— Julizar Muttaqin



Sikap terburu - buru itu setan

Dikarenakan kondisi ekonomi yang tidak stabil, banyak orang terjebak dalam situasi panic. Bahkan, tidak sedikit oknum sales di Indonesia yang hanya berbekal kemampuan analisis seadanya, namun dibungkus dengan tampilan mewah seperti pakaian mahal dan mobil bergengsi. Alih-alih memberikan nilai dari produk yang dijual, mereka justru menjerumuskan banyak orang ke dalam masalah ekonomi bahkan politik. Keuntungan yang mereka peroleh sering kali bukan berasal dari kualitas produk, melainkan dari modal calon konsumen, surat berharga, dan skema lain yang merugikan.

Di sinilah kesadaran kita dituntut.

Tidak jarang kita menjumpai sales yang hanya bermodalkan name tag dan kepiawaian berbicara. Mereka mampu menjelaskan produk dengan lancar, bahkan berbicara seolah-olah berasal dari kalangan ekonomi kelas atas. Minim reputasi, namun dibalut dengan jam tangan bermerek, pakaian mahal, sepatu, hingga ikat pinggang berkelas. Ada pula yang melakukan tindakan konyol dengan mengatasnamakan ramuan spiritual, praktik mistik, hingga berbagai tipu daya seperti permainan “pengembangan hidup”, program jalan-jalan, karaoke, sampai arisan keluarga.

Sementara itu, konsumen sering kali hanya bermodalkan sumber daya terbatas dan keyakinan semata, tanpa analisis menyeluruh dari awal hingga akhir mengenai berbagai risiko yang mungkin terjadi. Di sinilah pentingnya setiap calon pembeli untuk melakukan analisis yang memadai sebagai langkah pencegahan awal, serta melibatkan perjanjian tertulis agar memiliki kekuatan hukum di kemudian hari apabila diperlukan.

Hal ini berbeda dengan kondisi di Eropa dan negara-negara maju lainnya. Di sana, profesi sales umumnya dibekali dengan tingkat pendidikan yang tinggi, kemampuan analisis yang matang, serta dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dengan kombinasi tersebut, risiko terjadinya penipuan atau “jebakan Batman” menjadi jauh lebih kecil.

By Julizar Muttaqin




Benteng Barat berdiri kokoh di darat, tetapi Melayu membangun benteng yang hidup di lautan—kapal yang bukan hanya alat perang, melainkan simbol kedaulatan yang tak mudah ditaklukkan.

  Jika bangsa Barat dan Cina membangun benteng-benteng tinggi sebagai pusat pertahanan mereka—sebagai simbol kekuatan sekaligus perlindungan...