Selasa, 24 Agustus 2021

Jawaban Persatuan Indonesia- eps 1, Pemikiran Julizar Muttaqin

Persatuan Indonesia dalam Lintasan Sejarah

Sesuai dengan cita-cita para leluhur bangsa dan Sila Ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia, terdapat poin-poin penting yang perlu dipahami dalam melihat sejarah pergerakan dan perjalanan bangsa. Di era modern—bahkan milenial—ketika masyarakat telah dibekali pendidikan modern serta ajaran agama, seharusnya persamaan dan perbedaan dapat dijadikan potensi kekuatan untuk bersatu dalam membangun bangsa dan negara.

Sebagai masyarakat yang beragama, kita perlu menyadari bahwa para leluhur Nusantara juga melalui proses panjang dalam mencari dan mengenal Tuhan sesuai dengan konteks zaman serta kehidupan sosial mereka. Pada awalnya, masyarakat Nusantara menganut kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Seiring berjalannya waktu, pengaruh agama-agama dari luar masuk dan membentuk tatanan sosial baru, hingga akhirnya agama-agama samawi seperti Islam dan Nasrani dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dan menjadi agama mayoritas.


Awal Peradaban Tertulis Nusantara

Pada awal abad Masehi, leluhur kita mulai mengenal tradisi tulis melalui pengaruh agama Hindu yang dibawa oleh para saudagar India. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Prasasti Yupa (sekitar tahun 350–400 M), yang menceritakan Raja Kutai sebagai penganut Hindu serta kemakmuran kerajaannya, termasuk pengorbanan 20.000 ekor lembu.

Dari prasasti tersebut dapat disimpulkan bahwa masuknya Hindu membawa perubahan dalam struktur sosial masyarakat, termasuk pengenalan sistem kasta. Dalam sistem ini, raja sebagai golongan ksatria memiliki tanggung jawab untuk menegakkan keadilan bagi lapisan sosial di bawahnya. Jejak tatanan sosial tersebut masih dapat dirasakan hingga saat ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Seiring berkembangnya agama Hindu, agama Buddha juga tumbuh pesat di daratan India dan menyebar ke wilayah Nusantara, khususnya di sepanjang pantai Sumatra. Puncaknya terjadi pada masa Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang membawa misi penyebaran Buddha Mahayana sekaligus ekspedisi penaklukan dengan sekitar 20.000 pasukan. Hal ini dibuktikan melalui Prasasti Kedukan Bukit (682 M / 604 Saka), yang mencatat pemindahan pusat kekuasaan ke Palembang dan peletakan dasar Kerajaan Sriwijaya.

Buddha Mahayana kemudian dijadikan agama resmi kerajaan, serupa dengan kebijakan Kaisar Konstantinus di Romawi Timur yang menjadikan Nasrani sebagai agama negara.


Bhinneka Tunggal Ika: Sintesis Nusantara

Pengaruh Hindu dan Buddha kemudian menyebar hingga ke Pulau Jawa dan membentuk tatanan sosial serta budaya baru. Pada abad ke-14, terjadi dinamika dan percampuran pemikiran kedua agama tersebut yang melahirkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, sebagaimana tertulis dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Konsep ini merupakan gagasan persatuan dalam keberagaman yang jauh mendahului konsep nasionalisme modern.


Islam dan Tatanan Sosial Baru

Memasuki fase berikutnya, agama Islam berkembang pesat melalui para saudagar Arab, Persia, dan India. Prinsip utama Islam—bahwa semua manusia setara di hadapan Allah SWT tanpa membedakan kelas sosial—menjadi daya tarik besar bagi masyarakat Nusantara. Selain itu, kemajuan pesat dunia Islam di Baghdad dan Mesir dalam bidang militer, ekonomi, serta teknologi turut memengaruhi penerimaan Islam di Nusantara.

Islam pertama kali berkembang di wilayah pesisir, seperti Aceh dan Barus di pantai barat Sumatra, yang sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan internasional. Dari wilayah ini kemudian lahir Kerajaan Samudra Pasai, kerajaan pertama di Nusantara yang menjadikan Islam sebagai agama resmi. Pengaruh Islam selanjutnya menyebar ke berbagai wilayah lain, seperti Kesultanan Malaka, Palembang, Pagaruyung Minangkabau, Banten, Demak, Banjarmasin, hingga Gowa-Tallo di Makassar.

Pada masa kejayaan Turki Utsmani, kerajaan-kerajaan di Nusantara relatif bebas mengatur wilayahnya masing-masing. Sistem ekonomi perbankan modern belum dikenal, sehingga prinsip keadilan sosial Islam sangat dirasakan oleh masyarakat. Tidak mengherankan apabila Islam mengakar kuat hingga ke relung kehidupan para pendahulu kita. Bahkan, banyak sejarawan mengakui bahwa belum ada tatanan peradaban yang mampu menandingi sistem Islam pada masa keemasannya, yang juga meninggalkan warisan seni dan arsitektur megah lintas zaman.


Kolonialisme dan Perlawanan Nusantara

Perubahan besar terjadi ketika Eropa mengalami kemajuan pesat dalam teknologi militer dan sistem ekonomi, termasuk lahirnya sistem perbankan modern. Kemajuan ini memungkinkan negara-negara Eropa mengumpulkan modal besar untuk memperkuat angkatan perangnya, sebagaimana dilakukan Belanda dalam menaklukkan Nusantara. Politik 3G (Gold, Glory, Gospel) mendorong ekspansi kolonial secara masif.

Monopoli ekonomi dan kekuatan senjata modern mengubah tatanan Nusantara secara drastis. Strategi devide et impera diterapkan untuk menguasai sumber daya alam dan melemahkan perlawanan lokal. Perlawanan sengit dilakukan oleh para bangsawan dan tokoh daerah, kemudian dilanjutkan oleh para ulama dan cendekiawan. Perjuangan ini akhirnya diteruskan oleh generasi terpelajar yang mengenyam pendidikan modern Belanda, hingga melahirkan kesadaran nasional.

Puncak kesadaran persatuan tersebut terjadi pada 28 Oktober 1928, ketika para pemuda dari berbagai latar belakang mengikrarkan Sumpah Pemuda. Perjuangan Islam dan nasionalisme pun berpadu, membuka jalan menuju kemerdekaan Republik Indonesia.


Apa Itu Nasionalisme?

Pertanyaan penting kemudian muncul: apa itu nasionalisme dan dari mana paham ini berasal?

Nasionalisme lahir di Eropa, khususnya dari pergolakan politik di Prancis, ketika kaum proletar menuntut persamaan hak terhadap bangsawan dan kaum borjuis. Revolusi Prancis menumbangkan Raja Louis dan melahirkan sistem pembagian kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Dari sinilah tumbuh rasa cinta terhadap bangsa dan negara.

Paham ini berkembang pesat seiring Revolusi Industri di Inggris, yang mendorong negara-negara Eropa mencari sumber daya alam ke berbagai belahan dunia.

Di Asia, nasionalisme mulai tumbuh setelah kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905, yang membuktikan bahwa bangsa Asia mampu mengalahkan bangsa Barat. Kesadaran akan persamaan nasib, hak, dan ingatan akan kejayaan masa lalu menjadikan kaum terpelajar Nusantara sebagai pelopor pergerakan nasional.


Nasionalisme di Hindia Belanda

Pergerakan nasionalisme di Hindia Belanda berkembang pesat sejak dibukanya ruang berorganisasi. Pada tahun 1908, lahir organisasi modern Budi Utomo, yang dipelopori oleh Wahidin Sudirohusodo dan Soetomo. Organisasi ini disusul oleh Sarekat Dagang Islam pimpinan Haji Samanhudi, Indische Partij (1912) yang didirikan oleh Tiga Serangkai, Perhimpunan Indonesia, serta berbagai organisasi lain, termasuk PKI dan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin oleh Ir. Soekarno.

Gelombang nasionalisme ini menjadi ancaman serius bagi kekuasaan kolonial. Di Eropa, muncul ultra-nasionalisme di Jerman dan komunisme di Rusia yang berujung pada Perang Dunia II. Perang ini melemahkan kendali kolonial di Asia, ditambah dengan ekspansi Jepang di bawah kepemimpinan Hideki Tojo.


Menuju Proklamasi

Kekalahan Jepang pada tahun 1945 menciptakan kondisi vacuum of power di Hindia Belanda. Momentum ini dimanfaatkan oleh para tokoh nasionalis seperti Soekarno dan Mohammad Hatta, yang merangkul pemuda serta tokoh agama untuk merumuskan kemerdekaan melalui sidang BPUPKI dan PPKI. Dari proses inilah lahir dasar negara, bentuk negara, serta Undang-Undang Dasar.

Akhirnya, pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta secara resmi memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia.




  
 











 

Benteng Barat berdiri kokoh di darat, tetapi Melayu membangun benteng yang hidup di lautan—kapal yang bukan hanya alat perang, melainkan simbol kedaulatan yang tak mudah ditaklukkan.

  Jika bangsa Barat dan Cina membangun benteng-benteng tinggi sebagai pusat pertahanan mereka—sebagai simbol kekuatan sekaligus perlindungan...