Selasa, 15 November 2022

 Samo omak

Pituah dari Beliau

Kelak ketika malaikat bertanya, yang ditanyakan bukanlah berapa banyak harta yang kita miliki, melainkan amalan apa yang telah kita perbuat.
Keindahan Tanjung Balai hari ini rusak karena manusia sibuk menyimpan harta, hingga melupakan nikmat Tuhan yang terus-menerus dialirkan melalui sungai ini tanpa henti.

Ibu pernah bercerita bahwa ia menyaksikan siaran dari Jepang: sebuah sungai dibagi menjadi dua aliran, satu untuk kebutuhan perkotaan dan satu lagi untuk kota-kota tua.
Hati saya merasa tenang karena pandangan itu sejalan dengan pemikiran ibu saya. Dalam siaran NHK, ditunjukkan bagaimana Kaisar Jepang membagi aliran sungai—sebagian untuk industri dan sebagian lainnya untuk permukiman.

Karena itu, saya berpesan kepada masyarakat Tanjung Balai: jangan memilih wali kota yang tidak memahami lingkungan. Pilihlah demi anak cucu kita, bukan demi kantong pribadi. Insya Allah, alam pun akan mendoakan kalian semua.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Benteng Barat berdiri kokoh di darat, tetapi Melayu membangun benteng yang hidup di lautan—kapal yang bukan hanya alat perang, melainkan simbol kedaulatan yang tak mudah ditaklukkan.

  Jika bangsa Barat dan Cina membangun benteng-benteng tinggi sebagai pusat pertahanan mereka—sebagai simbol kekuatan sekaligus perlindungan...