Teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin menggemparkan umat manusia pada masanya. Bukunya dicetak dalam jumlah besar dan banyak dibaca oleh kalangan cendekiawan yang mengenyam pendidikan Barat. Seiring waktu, teori tersebut dijadikan pijakan oleh sebagian kalangan untuk memperkuat pandangan materialisme, yang dianggap mereduksi atau merendahkan dimensi spiritual manusia.
Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki nenek moyang yang sama dengan makhluk hidup lainnya. Namun, dalam interpretasi populer, gagasan tersebut kerap disederhanakan menjadi anggapan bahwa manusia berasal dari kera, atau semata-mata dipahami sebagai bagian dari spesies Homo sapiens yang berkembang melalui proses evolusi. Variasi manusia kemudian dipahami dalam kerangka persaingan dan seleksi alam, di mana yang kuat bertahan dan yang lemah tersingkir.
Dalam perkembangannya, sebagian pemikir sosial dan politik menggunakan penafsiran tertentu atas teori evolusi untuk membenarkan dominasi, kolonialisme, bahkan fasisme. Gagasan tentang “yang paling layak bertahan” diselewengkan menjadi pembenaran moral bagi praktik chauvinisme dan supremasi ras. Pada abad ke-20, ide-ide tersebut turut memengaruhi ideologi ekstrem seperti yang dianut oleh Adolf Hitler dalam konteks World War II, di mana obsesi terhadap asal-usul ras Arya dikaitkan dengan interpretasi temuan-temuan antropologis dan fosil yang dianggap berbeda dari orang Eropa pada umumnya.
Dengan demikian, teori Darwin tidak hanya menjadi perdebatan ilmiah, tetapi juga memasuki wilayah ideologi, moral, dan politik ketika ditafsirkan dan digunakan di luar konteks sainsnya.