Julzar Muttaqin
Banyak cara yang dilakukan para pemuda dalam kegiatan organisasi untuk membebaskan bangsa dari kolonialisme Belanda dan Jepang. Akan tetapi, terdapat satu perhatian besar dari para orang tua terdahulu ketika mendengar nama Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini disebabkan ajaran Karl Marx yang dijadikan dasar ideologi untuk mengisi ruh pergerakan para kadernya, yang bertolak belakang dengan paham liberalisme yang dianut oleh sebagian besar negara kolonialis.
Pergerakan PKI di Indonesia bermula dari tokoh komunis di Belanda yang membentuk partai politik di Hindia Belanda. Tokoh terkenal tersebut adalah Henk Sneevliet, yang kemudian mengader banyak pemuda Hindia Belanda yang berpengaruh, seperti Semaun dan Darsono. Dari sinilah terbentuk ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging), yang lahir akibat tekanan tata tertib organisasi di kubu Sarekat Islam, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Haji Agus Salim dan HOS Cokroaminoto.
Setelah ISDV terbentuk, para pemuda yang telah dikader dan diperkenalkan pada ideologi komunis yang bersifat anti-kolonialisme, secara gencar melakukan publikasi melalui tulisan-tulisan perlawanan terhadap kolonialisme. Publikasi tersebut dimuat dalam surat kabar bernama Suara Rakyat. Namun, pada tahun 1924, nama organisasi ini diubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI), dengan tokoh penggerak utama seperti Tan Malaka dan Semaun.
PKI kemudian semakin aktif melancarkan gerakan anti-liberalisme yang dianggap sebagai praktik ekonomi yang memeras keringat rakyat melalui industri-industri milik kaum pemodal. Akibat aktivitas ini, banyak tokoh PKI yang harus melarikan diri dari kejaran polisi kolonial Belanda.
Pada tahun 1926, muncul perbedaan pandangan dan strategi perjuangan di tubuh PKI. Tan Malaka berseberangan dengan cara perjuangan Semaun. Tan Malaka tidak sepenuhnya menerima pemikiran Karl Marx secara bulat-bulat dan menolak pemberontakan yang dilakukan oleh Semaun dan Alimin. Pemberontakan tersebut mengakibatkan ribuan korban jiwa dan menyebabkan sejumlah tokoh partai diasingkan ke Boven Digul oleh pemerintah kolonial Belanda. Peristiwa ini menjadikan PKI sebagai partai terlarang, yang kemudian dikenal sebagai PKI Jilid I.
“Kegagalan Hatta dalam berdemokrasi adalah sulit untuk berbohong.”
Mohammad Hatta menggunakan cara-cara leluhur dalam berdiplomasi untuk meyakinkan para sultan Melayu agar memilih bentuk negara republik. Namun, beliau melupakan satu risalah penting tentang makna praktik demokrasi, yaitu seni berkompromi yang terkadang menuntut kebohongan politik. Hatta dikenal sebagai sosok yang sulit untuk berbohong. Akibatnya, pada tahun 1950, ia memilih keluar dari konsep Dwi Tunggal yang sebelumnya ia gagas bersama Soekarno.
Hal tersebut menyebabkan kaum nasionalis yang dipimpin oleh Soekarno tidak mampu sepenuhnya menjamin keutuhan negara yang telah mereka proklamasikan bersama. Dari kondisi inilah kemudian muncul Mosi Integral, yang digagas oleh seorang tokoh Melayu Minangkabau. Hingga saat ini, konsep tersebut tetap dipegang teguh dalam bentuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar