Senin, 26 Juni 2023

perlukah Restorasi di Indonesia"


 

Soekarno Mampu Memproklamasikan, Bangsa Ini Memerlukan Restorasi

Indonesia memiliki keanekaragaman suku bangsa yang sangat besar. Namun hingga hari ini, Negara Republik Indonesia belum sepenuhnya mampu mengelola dan memaksimalkan kelebihan masing-masing suku bangsa tersebut sebagai kekuatan nasional. Secara umum, para pemimpin negeri ini cenderung hanya mengeksplorasi seni dan budaya sebagai simbol, itupun belum terkelola secara menyeluruh dan berkelanjutan. Hal ini tampak dari lemahnya pengembangan kebudayaan dan pariwisata yang belum memiliki arah strategis jangka panjang yang mampu menembus dunia internasional.

Jika kita menengok tokoh-tokoh besar dunia seperti Nabi Muhammad SAW, Ratu Victoria, Genghis Khan, hingga Otto von Bismarck, kita dapat melihat satu kesamaan utama: mereka berhasil menyatukan bangsanya bukan hanya dalam pendirian negara, tetapi juga dalam cara hidup, irama sosial, dan orientasi peradaban.

Genghis Khan, misalnya, mampu membangun kekuatan kavaleri terbesar di dunia dengan memanfaatkan kebiasaan hidup masyarakat Mongol yang nomaden dan mahir berkuda. Keahlian memanah dari atas kuda yang telah menjadi budaya sehari-hari disatukan dalam satu sistem militer yang terorganisasi, menjadikannya kekuatan yang dikenang sepanjang sejarah.

Nabi Muhammad SAW berhasil meletakkan fondasi masyarakat madani dengan memahami struktur sosial bangsa Arab yang terbiasa hidup dalam kabilah-kabilah dagang. Melalui penekanan pada kejujuran, keadilan, dan kolaborasi antarkabilah—terutama melalui Piagam Madinah—lahirlah tatanan sosial baru yang menghapus perbudakan secara bertahap dan membangun sistem hukum serta etika perdagangan yang hingga kini tetap diajarkan.

Ratu Victoria (serta era kekaisaran Inggris di bawahnya) mampu merestorasi sistem perdagangan dan armada laut Inggris dengan perlindungan hukum yang kuat, sehingga mendorong perkembangan sains dan teknologi. Puncaknya adalah Revolusi Industri yang memodernisasi cara kerja masyarakat dan meningkatkan produktivitas secara masif.

Sebaliknya, Indonesia belum pernah memiliki pemimpin yang benar-benar melakukan restorasi cara hidup bangsa secara menyeluruh. Soekarno memang berhasil membawa bangsa ini pada Proklamasi Kemerdekaan, namun belum sempat atau belum mampu membangun embrio tatanan hidup bangsa yang berakar kuat dan berkelanjutan. Setelah proklamasi, arah pembangunan nilai, etos kerja, dan sistem kehidupan bangsa kerap terputus dan berubah-ubah hingga hari ini.

Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tidak sekadar piawai berorasi atau membangun simbol kebangsaan, tetapi mampu melakukan restorasi cara hidup nasional—menggali kekuatan lokal, menyatukannya dalam sistem ekonomi, sosial, dan politik yang utuh serta berjangka panjang.

Hanya dengan restorasi semacam inilah Indonesia dapat melahirkan pemimpin besar sebagaimana yang telah dicontohkan sejarah dunia.

Catatan:
Julizar Muttaqin



Senin, 12 Juni 2023

kelemahan tokoh politisi Indonesia memahami sejarah leluhur


 

Bangsa ini telah lama melupakan jejak dan kehebatan para leluhurnya. Siapa pun yang mampu menggali kembali, memahami, dan menerapkan nilai-nilai tersebut di masa depan, berpotensi menjadi pemimpin besar di negeri ini—bahkan mampu menandingi nama Soekarno dan Hatta.

Seperti Luhut Binsar Panjaitan, yang mungkin hanya mengenal dirinya sebagai mantan perwira. Namun, belum tentu ia menyadari bahwa bangsa Arab telah lama berdagang di Barus. Leluhur masyarakat Batak diduga telah terlibat dalam perdagangan hasil bumi yang dikirim hingga ke Timur Tengah dan bahkan ke Roma.

Seperti Megawati Soekarnoputri, yang dikenal sebagai putri Presiden pertama Republik Indonesia. Namun, tidak banyak yang menyoroti bahwa ibunya berasal dari Minangkabau, sebuah bangsa yang oleh Raffles disebut sebagai pewaris Sriwijaya dan sumber kekuatan Melayu (History of Sumatra).

Seperti Prabowo Subianto, yang memahami dirinya sebagai seorang ksatria yang setia kepada negara. Namun, ia seakan melupakan bahwa leluhur Jawa diwarisi sebuah pulau yang indah dan subur, berkat kesabaran dan keteguhan masyarakat Jawa yang tinggi dibandingkan bangsa lain.

Seperti Yusril Ihza Mahendra, yang dikenal sebagai cendekiawan andal. Namun, leluhur Melayu yang ia warisi memiliki tradisi organisasi maritim yang kuat, mampu membangun dan mengelola negara-negara maritim besar dan berpengaruh seperti Melaka, Siak, Asahan, Palembang, Aceh, dan lainnya.

Dan masih banyak contoh lainnya.

Oleh karena itu, teruslah menggali sejarah leluhur kita agar kita memahami akar persoalan bangsa ini, sehingga kita tidak terombang-ambing seperti kayu di lautan. Teruslah belajar, berkarya, dan berikan yang terbaik bagi keluarga, suku bangsa, dan negara.

Kamis, 29 Desember 2022

perkembangan Ilmu pengetahuan itu sejalan dengan Perkembangan ekonomi, Politik dan Militer"

Kita dapat melihat periode kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah yang beribu kota di Baghdad, di mana Islam berhasil membangun tata negara yang luar biasa dibandingkan era sebelumnya, seperti Dinasti Umayyah yang lebih menekankan ekspansi teritorial kekuasaan. Pada masa Abbasiyah inilah lahir banyak ilmuwan besar yang hingga kini temuannya masih dirasakan dan menjadi fondasi peradaban modern.

Di samping stabilitas politik yang kuat dengan kepemimpinan para khalifah dan sistem pemerintahan Islam yang mapan, kita juga dapat menyaksikan bagaimana persinggungan peradaban Arab dan Persia dipadukan menjadi sebuah mahakarya tata negara, hukum, dan kebudayaan yang luar biasa. Dari lingkungan peradaban inilah lahir tokoh-tokoh budaya dan sastra seperti Abu Nawas, menjadikan Abbasiyah sebagai simbol kejayaan kebudayaan Islam—bahkan peradaban Timur secara umum—yang pada masa itu melangkah lebih maju dibandingkan Eropa.

Kemakmuran Abbasiyah terasa di berbagai belahan dunia. Tidak sedikit kerajaan di luar dunia Islam merasa takjub terhadap keadilan dan kemajuan yang dibangun oleh peradaban Islam pada abad tersebut. Jutaan karya ilmiah lahir dalam bidang sains, astronomi, matematika, kedokteran, dan filsafat. Baghdad pun dikenal sebagai kota Seribu Satu Malam, tempat sejuta pengetahuan dan kenangan peradaban manusia tersimpan.

Namun, kejayaan itu runtuh pada masa pembumihangusan Baghdad oleh bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan, cucu Genghis Khan. Peristiwa ini menjadi awal periode kegelapan dalam sejarah Islam yang dampaknya masih terasa hingga kini. Perpustakaan-perpustakaan besar Abbasiyah dibakar, buku-buku ilmu pengetahuan dibuang ke Sungai Eufrat dan Tigris hingga air sungai dikisahkan menghitam oleh tinta. Yang tersisa hanyalah ilmu-ilmu yang dibawa oleh segelintir sarjana yang berhasil selamat dari pembantaian tersebut.

Masa kegelapan ini membuat stabilitas politik dunia Islam menjadi rapuh. Setelah wafatnya Genghis Khan, konflik terus berlanjut dan peperangan seakan menjadi satu-satunya jalan penyelesaian perselisihan. Dari kondisi ini lahir pemimpin-pemimpin militer Islam yang besar dan berpengaruh, seperti Alp Arslan, Timur Lenk, Bayezid I, Mehmed II, dan Sulaiman al-Qanuni. Namun, meskipun Kesultanan Utsmani berhasil membangun kekuatan militer yang dahsyat, mereka belum mampu menciptakan stabilitas intelektual dan keilmuan seperti yang pernah dicapai Dinasti Abbasiyah. Sistem hukum dan pemerintahan Utsmani lebih bertumpu pada kekuatan militer, sehingga relatif sedikit melahirkan ilmuwan sains dan pemikir besar.

Memasuki periode modern, peninggalan kejayaan Utsmani lebih banyak terlihat dalam bentuk bangunan-bangunan megah dengan arsitektur geometris yang menegaskan simbol kejayaan para pemimpin militer. Seiring waktu, Kesultanan Utsmani semakin tergerus oleh arus pemikiran baru dari Eropa, hingga akhirnya mengalami kemunduran dan runtuh. Puncaknya terjadi ketika gerakan nasionalis Turki Muda yang dipimpin Mustafa Kemal Atatürk mengakhiri kesultanan dan mendirikan Republik Turki.

Sementara itu, Eropa terus berbenah. Dengan berbekal pemikiran filsafat Yunani yang dipadukan dengan pemikiran Ibnu Rusyd (Averroes), lahirlah gagasan kebebasan individu sebagai cikal bakal liberalisme. Kekuasaan absolut kerajaan mulai dibatasi, seperti yang terjadi di Inggris dengan pembentukan parlemen sebagai pilar pemerintahan dan raja atau ratu sebagai kepala negara simbolik. Transformasi ini menjadi awal kemajuan besar peradaban Eropa dan melahirkan tokoh-tokoh industri seperti James Watt.

Peristiwa Revolusi Prancis—yang ditandai dengan eksekusi Raja Louis XVI di guillotine—menguatkan tuntutan persamaan hak dan penerapan Trias Politica. Gelombang perubahan ini mendorong masyarakat Eropa untuk menentukan arah kemajuan mereka sendiri, di mana setiap individu bebas berproduksi tanpa intervensi kekuasaan absolut, disertai penguatan sistem hukum dan politik. Tidak mengherankan jika Eropa kemudian mampu menjelma menjadi pusat peradaban dunia pada periode modern.

Selasa, 15 November 2022

Istana Niat Lima Laras, Jejak Pengaruh Minangkabau di Pantai Timur Sumatera

Istana Niat Lima laras



Rumah ini sungguh tidak ada duanya. Ia menjadi bukti kehebatan seorang saudagar besar yang lahir di Batu Bara.

Melihat kejayaan rumah sang Datuk, teringat pesan orang Melayu: pantang berutang. Kekayaan dan kemegahan yang tercermin pada bangunan ini lahir dari hasil kerja keras, bukan dari beban hutang.

Bangunan ini dikerjakan oleh para pekerja Tionghoa. Pertanyaannya, bagaimana mereka bisa didatangkan? Perlu dipahami bahwa masyarakat Tionghoa telah hadir dan merantau di Nusantara selama berabad-abad, terutama sebagai pedagang dan tenaga ahli bangunan.

Catatan Sejarah yang Perlu Diluruskan

Pada tanggal 29 Juli 1910, nama Lima Laras diambil sebagai kenangan atas Lima Lareh di Sumatera Barat, yang merujuk pada sidang Lima Raja. Sebelumnya, kelima raja tersebut merupakan perantau Minangkabau yang berasal dari Limo Lareh dan berlabuh di Kuala Lima Dolok pada akhir abad ke-15.

Seorang cerdik pandai bernama Datuk Indrapura menetap di Simpang Dolok hingga keturunannya yang ke-11, Datuk Ingah Mansur. Ke arah selatan, menuju Tanah Datar, terdapat keturunan bernama Wan Sahroni. Keturunannya kemudian menetap di Bengkalan dengan gelar Datuk Semuangsah.

Ke arah Kampung Alai, wilayah ini dikunjungi oleh Datuk Cik Ayung hingga keturunan ketujuh. Keturunan kedelapan berpindah ke Kampung Pinang, wilayah Kampung Sentang, hingga generasi kesembilan, yaitu Haji Ja’far, yang kemudian memperluas pengaruhnya ke Kampung Dolok dan mendirikan rumah raja di Cempaka Biru.

Keturunan kesepuluh, Datuk Mat Yuda, pada tahun 1883 dikenal sebagai saudagar ulung yang berdagang hingga ke Malaysia dan sepanjang jalur Selat Malaka. Ia memiliki tujuh kapal dagang yang menjadikannya sangat kaya. Uang logam hasil perniagaannya setiap tahun dijemur dan diminyaki agar tidak berkarat. Menjelang akhir hayatnya, seluruh usaha dagangnya dipercayakan kepada orang kepercayaannya, yang dalam istilah setempat disebut apik lempang.

Biaya pembangunan Istana Lima Laras sepenuhnya berasal dari hasil perdagangan Datuk Mat Yuda. Bahan bangunan utama berupa kayu berkualitas tinggi didatangkan dari Malaysia, seperti kayu merbau, bera-bera, dan meranti. Masyarakat setempat dilibatkan dengan menyediakan pelepah rumbia, sementara arsitek asli dari kedatukan—yang dikenal sebagai Ulung Bijak—dipanggil untuk merancang bangunan.

Pada masa itu, banyak orang Tionghoa merantau sebagai pekerja bangunan, karena mereka dikenal memiliki keahlian tinggi dalam pertukangan kayu dan seni pahat. Pembangunan Istana Lima Laras dimulai pada tahun 1907 dan selesai pada tahun 1912.

Pada tahun 1919, Datuk wafat dan digantikan oleh putranya. Namun, pada akhir masa pemerintahannya, terjadi persinggungan dengan peraturan kolonial Belanda, sehingga jabatannya dalam pemerintahan kedatukan dicopot dan digantikan oleh seorang Syahbandar, yang menyebabkan kewenangan Datuk menjadi terbatas.

Pada tahun 1947, istana ini pernah dijadikan kamp Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Saat itu, Angkatan Darat dipimpin oleh Wakid Lubis, sedangkan Angkatan Laut dipimpin oleh Mayor Danrif Nasution.

Bangsa Indonesia adalah Bangsa Yang diciptakan Untuk Besar, Formulanya saja yang belum terbentuk Rapi"

 

Jika pedati-pedati Jawa dan kapal-kapal Melayu berputar selaras, bangsa ini dapat menjadi sebuah superpower.
— Julizar Muttaqin

Borobudur: saksi bisu kemajuan peradaban Nusantara

Bagi orang Melayu—baik di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, maupun dalam peradaban bahari—berlaku satu prinsip utama:
“Di dalam perahu, kita tidak pernah sendirian. Kita satu kapal, satu nahkoda; ada yang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.”

Barang siapa melanggar konsep pergaulan ini, bahkan sebelum Tuhan menjatuhkan hukuman, alam terlebih dahulu akan mengutuknya.

Melayu bermarwah di atas kapal masing-masing, bukan di atas mimbar yang disediakan.

Kerajaan Minanga telah tercatat dan dapat diakses secara terbuka, bahkan melalui Wikipedia, sebagai pengetahuan bagi pemuda-pemuda Melayu. Ia merupakan gugusan kapal dan perahu yang membentuk kedatuan Melayu, berpusat di Kampar, lalu berpindah-pindah untuk memperluas pengaruhnya. Pada masa Dapunta Hyang Sri Jayanasa, misi pengembangan peradaban bahari dilakukan dengan membawa sekitar 20.000 pasukan menuju Bumi Palembang.

Terdapat kesamaan mendasar antara Melayu dan Arab. Pola pergaulan Arab terbentuk dari penguasaan hamparan daratan melalui sistem kabilah, sementara Melayu menguasai hamparan lautan melalui kapal-kapal. Perbedaannya terletak pada sifat dan cara menjalankan kodrat masing-masing.

Saya lebih senang melihat orang Jawa dengan pedatinya dan orang Sumatera dengan perahu-perahunya. Itulah bentuk kodrat yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Jangan merasa paling benar sendiri dengan mengatakan bentuk Jawa salah atau bentuk Sumatera keliru. Bisa jadi, yang sedikit keliru adalah hati kita.

Konsep saya sederhana: ketika orang Jawa berjalan pada kodrat pedatinya, dan orang Melayu berjalan pada kodrat kapalnya, insya Allah kita akan menjadi bangsa yang besar, bahkan dihormati oleh bangsa-bangsa dunia. Semboyan Pancasila saja belum cukup jika tidak diisi dengan pemahaman atas kodrat yang telah Allah SWT tetapkan. Konsep ini memang berat diterapkan, tetapi percayalah, dunia ini bukan hanya milik para penjudi kehidupan.

Islam

Konsep Islam pada dasarnya sangat sederhana: konsep persahabatan. Sahabat saling mengingatkan dalam menegakkan risalah Rasulullah SAW. Namun, konsep ini sering berbenturan dengan hierarki buatan manusia, sehingga menimbulkan penolakan di berbagai penjuru.

Islam tidak menitikberatkan pada simbol-simbol kelompok, panji-panji perang, atau sekadar penghimpunan massa yang justru memecah umat menjadi kelompok-kelompok kecil. Konsep sahabat adalah konsep saling menghargai dan memahami pola pergaulan masing-masing: pergaulan kabilah, pergaulan kapal Melayu, dan pergaulan-pergaulan lainnya. Dari sinilah Islam mampu menembus lintas budaya dan tarekat. Tidak mustahil, kekokohan Islam justru terpancar dari isyarat Ilahi yang sejak awal telah terwujud dalam pola pergaulan leluhur berbagai suku bangsa.

Dalam masyarakat Melayu tidak dikenal sistem kasta. Karena itu, agama Buddha pernah diterima oleh leluhur kita. Sikap ini menurun kepada generasi berikutnya. Tak heran, banyak ulama Melayu—dari Sumatera hingga Sulu—lebih mengedepankan kesederhanaan. Ajaran mereka sarat kebijaksanaan, layaknya seorang nahkoda yang semakin banyak berlayar, semakin memahami dunia. Kepemimpinan pun tertanam kuat dalam diri ulama-ulama Melayu. Pada masa kolonial Belanda, para haji yang pulang dari Mekkah kerap diawasi karena peran mereka dalam pergerakan kemerdekaan.

Minangkabau, Melayu, Makassar, Bugis, Aceh, hingga wilayah Sumatera, Borneo, dan Sulu—selama masih berpola bahari—tetap menjadikan kapal sebagai bentuk pergaulan hidupnya. Yang membedakan hanyalah sifat dan karakter masing-masing. Itulah nikmat kodrat yang diberikan kepada kita, berbeda dengan kodrat Jawa yang bercorak agraris dengan simbol pedati.

Tergerusnya Melayu di Era Modren

Kita mengetahui bahwa masyarakat Sumatera, Sulawesi, Kalimantan hingga Filipina—dengan pengecualian Jawa—memiliki pola pergaulan yang terbentuk dari budaya bahari, yakni perahu dan kapal. Pola ini berbeda dengan pola Jawa yang tumbuh dari lingkungan agraris. Perbedaan tersebut membentuk identitas sosial yang beragam, namun tetap dalam satu ikatan persaudaraan.

Dalam era organisasi kapitalis, justru pola agraris sering kali lebih diuntungkan. Hal ini karena kapitalisme pada dasarnya berkembang melalui pembangunan pabrik dan industri yang “membaris­kan” manusia sebagai tenaga kerja. Oleh sebab itu, pada era modern dan industrialisasi, bangsa-bangsa seperti Cina, India, dan Jawa relatif lebih mudah beradaptasi dibandingkan masyarakat bahari seperti Melayu, jika dilihat dari pola kebudayaannya.

Meski demikian, terdapat sejumlah suku bangsa bahari yang hingga kini masih mampu mempertahankan pola “kapal” dan tetap bersaing dengan pola agraris. Di antaranya Minangkabau, Aceh, Palembang, Sulawesi, Makassar, Bugis, Ambon, dan lainnya. Walaupun mereka mungkin tidak mampu menjelaskan pola pergaulan tersebut secara teoritis, secara kasat mata pola warisan leluhur itu masih bertahan dalam kehidupan sosial mereka.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana Melayu bangkit?
Jawabannya adalah dengan mempertahankan pola kapal dan menyusun kembali “kapal-kapal Melayu” sebagai simbol kekuatan ekonomi, sosial, dan politik.

Perlu kehati-hatian terhadap pembangunan rel kereta api menuju Riau atau Aceh. Pembangunan semacam ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan juga membawa pola peradaban agraris—yang membelah masyarakat ke dalam kelas buruh dan borjuis.

Oleh karena itu, perlu segera didirikan banyak lembaga atau “kapal-kapal Melayu” sebagai basis kekuatan bersama. Rebut dan amankan tanah-tanah di Riau, serta bangun kolaborasi dengan saudara kita yang berpola agraris, yaitu Jawa, untuk mengelola tanah tersebut. Namun, hak kepemilikan tanah harus berada di tangan nahkoda-nahkoda Melayu. Bangun kepercayaan dengan berlandaskan prinsip keadilan.

Didik anak-anak Melayu di bidang hukum, kedokteran, dan angkatan laut. Sejarah mencatat bahwa satu pernyataan hukum Perdana Menteri Malaysia saat itu, Tunku Abdul Rahman, mampu mengalahkan seribu orasi Soekarno di hadapan persidangan PBB. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan hukum dan diplomasi memiliki dampak yang sangat besar.

Jangan sampai Riau bernasib sama dengan saudara-saudaranya di Sumatera Pantai Timur, sebab pembangunan rel kereta api dapat menjadi pintu masuk bagi peradaban agraris yang menggeser struktur sosial masyarakat bahari.

kenapa Melayu tidak Maju?

 

Mengapa Melayu Tidak Maju?

Jawabannya sederhana: karena hilangnya kodrat pergaulan kapal.

Sejak masa leluhur, Melayu lebih memilih Buddha dibandingkan Hindu. Hal ini bukan tanpa alasan. Budaya Hindu membentuk klaster agraris yang menempatkan petani sebagai kelas bawah, di bawah kaum ksatria dan cendekiawan, dengan peran hidup yang terbatas pada kerja bertani. Pola ini wajar berkembang di Jawa, yang secara kultural menyerupai pedati: satu kemudi, satu arah, dan penumpangnya cukup mengikuti irama—menyanyi dan bersuling—tanpa mempertanyakan kecepatan perjalanan, hanya boleh bertanya soal tujuan.

Berbeda dengan Melayu yang hidup dalam pola kapal-kapal. Setiap kapal memiliki kompasnya sendiri. Karena itu dibutuhkan seorang nahkoda yang benar-benar mengenal dirinya, agar mampu menjadi panutan bagi seluruh awak kapal. Inilah kodrat pergaulan Melayu.

Borobudur merupakan wujud kebijaksanaan Wangsa Melayu Kuno dalam mewujudkan kebesaran Datuk Besar dalam pandangan Buddha. Pembangunannya dikerjakan oleh saudara-saudara agraris—yang mayoritas Jawa—sebagai hasil dari kedaulatan dan pengaruh Sriwijaya. Karena itulah Raffles mengenal Borobudur melalui catatan Melayu Kuno.

Saya tidak percaya jika dikatakan bahwa saudara-saudara kita dari Jawa unggul dalam Angkatan Laut, sementara kita—sesama saudara—telah terbukti berjaya di lautan.
Malahayati dari Aceh,
Hasanuddin dari Makassar,
Raja Ismail dari Siak,
Arung Palakka dari Bugis,
dan masih banyak lainnya.

Karena itu, berdosalah negara-negara Melayu—baik Indonesia, Malaysia, maupun Singapura—jika tidak mendidik anak-anak Melayu menjadi perwira Angkatan Laut. Namun dosa yang lebih besar adalah para ibu Melayu yang mendidik anak-anaknya jauh dari kodrat yang telah ditetapkan Tuhan Yang Maha Bijaksana.

Melayu sejatinya tidak “bersatu”, melainkan berpadu. Bersatu hanya ada dalam partai-partai. Sejak kapan Melayu bersatu? Gagasan bersatu lahir dari cara berpikir nasionalisme dan komunisme yang tidak memahami kodrat Melayu sebagai kumpulan kapal yang berbaris, bukan massa yang dilebur.

Nasionalisme ala Eropa—yang dipelopori Soekarno—lebih relevan di tanah Jawa yang homogen dan agraris. Di tanah Melayu, gagasan ini justru menimbulkan benturan ideologis. Republiklah yang lebih dapat diterima, sebagaimana ditulis Datuk Tan Malaka dalam Naar de Republiek Indonesia. Peran Soekarno adalah menyatukan tokoh-tokoh Nusantara untuk membentuk negara baru, bukan memaksakan ideologi tertentu.

Ideologi yang Mengikis Melayu

  1. Nasionalisme (lahir dari Eropa, berbasis borjuis dan buruh)

  2. Komunisme (lahir dari kelas buruh Eropa)

  3. Sosialisme (lahir dari kelas borjuis Eropa)

  4. Radikalisme

Ideologi yang Selaras dengan Melayu

  1. Perpaduan, bukan persatuan

  2. Republik

  3. Perserikatan

  4. Islam

Inilah sebabnya orang Melayu di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan bergabung dengan Indonesia: karena kesamaan agama (Islam) dan bentuk republik. Sementara Malaysia terbentuk melalui perpaduan gugus-gugus kapal Melayu.

Barang siapa orang Melayu mengamalkan nasionalisme secara membuta, ia akan dikutuk oleh alam. Keturunannya akan menghadapi kemiskinan tanpa ujung, bahkan terputusnya nasab.

Mengapa orang Minang ikut berjuang di Jakarta dalam kemerdekaan RI? Karena para cendekiawan Minang yang mengenyam pendidikan Barat memiliki kepekaan tinggi terhadap penindasan kolonial. Mereka memperjuangkan kemerdekaan dengan kerangka pikir Barat—mengadopsi komunisme, filsafat Yunani, hingga trias politica Prancis. Pemikiran ini hanya relevan diterapkan di Jawa, yang saat itu menjadi pusat perbudakan industri kolonial.

Karena itu mereka berjuang di Jawa, bahkan di Deli seperti Tan Malaka. Namun di Deli, gagasan ini tidak berkembang luas, sehingga pusat perjuangan berpindah ke Jakarta. Setelah kemerdekaan, perbedaan sistem pemerintahan pun mencolok: Jawa yang homogen lebih diuntungkan oleh sistem terpusat, sementara luar Jawa tetap berpola kapal.

Hatta cenderung pada sistem parlementer dan federal, sedangkan Soekarno memilih sistem komando terpusat. Di tengah perbedaan itu, muncul tokoh Minang yang visioner: Muhammad Natsir, dengan Mosi Integral NKRI. Republik diterima luas oleh daerah-daerah luar Jawa karena lebih realistis dibanding nasionalisme yang menguntungkan masyarakat homogen.

Namun, seiring waktu, politik Indonesia bergeser. TNI menjadi alat politik Orde Baru yang otoriter, semakin merugikan Melayu—terutama di Selat Malaka—karena orang Melayu sulit dipaksa mengikuti sistem koordinasi terpusat ala Jawa. Muncullah “Melayu berekor” yang mengatasnamakan persatuan dan nasionalisme, namun kehilangan esensi pola pergaulan kaumnya sendiri.

Akibatnya, Melayu seperti kapal tanpa nahkoda. Awak bingung menentukan arah hidup dan politik, hingga banyak Melayu menjauh dari pusat kekuasaan.

Berbeda dengan Aceh. Mereka tetap mempertahankan pola kapal dan memperjuangkan keadilan berdasarkan sejarah. Aceh tidak pernah sepenuhnya ditaklukkan Belanda, bahkan pada masa Jepang. Hasan Tiro, sebagai Wali Nanggroe, setia pada pola pergaulan kapal, didukung ulama-ulama Aceh. Mereka membuktikan bahwa keadilan tidak harus dibawa dengan bendera nasionalisme. Perjuangan panjang itu akhirnya menghasilkan pengakuan Aceh sebagai daerah istimewa.

Benteng Barat berdiri kokoh di darat, tetapi Melayu membangun benteng yang hidup di lautan—kapal yang bukan hanya alat perang, melainkan simbol kedaulatan yang tak mudah ditaklukkan.

  Jika bangsa Barat dan Cina membangun benteng-benteng tinggi sebagai pusat pertahanan mereka—sebagai simbol kekuatan sekaligus perlindungan...