Senin, 12 Juni 2023

kelemahan tokoh politisi Indonesia memahami sejarah leluhur


 

Bangsa ini telah lama melupakan jejak dan kehebatan para leluhurnya. Siapa pun yang mampu menggali kembali, memahami, dan menerapkan nilai-nilai tersebut di masa depan, berpotensi menjadi pemimpin besar di negeri ini—bahkan mampu menandingi nama Soekarno dan Hatta.

Seperti Luhut Binsar Panjaitan, yang mungkin hanya mengenal dirinya sebagai mantan perwira. Namun, belum tentu ia menyadari bahwa bangsa Arab telah lama berdagang di Barus. Leluhur masyarakat Batak diduga telah terlibat dalam perdagangan hasil bumi yang dikirim hingga ke Timur Tengah dan bahkan ke Roma.

Seperti Megawati Soekarnoputri, yang dikenal sebagai putri Presiden pertama Republik Indonesia. Namun, tidak banyak yang menyoroti bahwa ibunya berasal dari Minangkabau, sebuah bangsa yang oleh Raffles disebut sebagai pewaris Sriwijaya dan sumber kekuatan Melayu (History of Sumatra).

Seperti Prabowo Subianto, yang memahami dirinya sebagai seorang ksatria yang setia kepada negara. Namun, ia seakan melupakan bahwa leluhur Jawa diwarisi sebuah pulau yang indah dan subur, berkat kesabaran dan keteguhan masyarakat Jawa yang tinggi dibandingkan bangsa lain.

Seperti Yusril Ihza Mahendra, yang dikenal sebagai cendekiawan andal. Namun, leluhur Melayu yang ia warisi memiliki tradisi organisasi maritim yang kuat, mampu membangun dan mengelola negara-negara maritim besar dan berpengaruh seperti Melaka, Siak, Asahan, Palembang, Aceh, dan lainnya.

Dan masih banyak contoh lainnya.

Oleh karena itu, teruslah menggali sejarah leluhur kita agar kita memahami akar persoalan bangsa ini, sehingga kita tidak terombang-ambing seperti kayu di lautan. Teruslah belajar, berkarya, dan berikan yang terbaik bagi keluarga, suku bangsa, dan negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Benteng Barat berdiri kokoh di darat, tetapi Melayu membangun benteng yang hidup di lautan—kapal yang bukan hanya alat perang, melainkan simbol kedaulatan yang tak mudah ditaklukkan.

  Jika bangsa Barat dan Cina membangun benteng-benteng tinggi sebagai pusat pertahanan mereka—sebagai simbol kekuatan sekaligus perlindungan...