Sabtu, 14 Desember 2024

Sikap terburu - buru itu setan

Dikarenakan kondisi ekonomi yang tidak stabil, banyak orang terjebak dalam situasi panic. Bahkan, tidak sedikit oknum sales di Indonesia yang hanya berbekal kemampuan analisis seadanya, namun dibungkus dengan tampilan mewah seperti pakaian mahal dan mobil bergengsi. Alih-alih memberikan nilai dari produk yang dijual, mereka justru menjerumuskan banyak orang ke dalam masalah ekonomi bahkan politik. Keuntungan yang mereka peroleh sering kali bukan berasal dari kualitas produk, melainkan dari modal calon konsumen, surat berharga, dan skema lain yang merugikan.

Di sinilah kesadaran kita dituntut.

Tidak jarang kita menjumpai sales yang hanya bermodalkan name tag dan kepiawaian berbicara. Mereka mampu menjelaskan produk dengan lancar, bahkan berbicara seolah-olah berasal dari kalangan ekonomi kelas atas. Minim reputasi, namun dibalut dengan jam tangan bermerek, pakaian mahal, sepatu, hingga ikat pinggang berkelas. Ada pula yang melakukan tindakan konyol dengan mengatasnamakan ramuan spiritual, praktik mistik, hingga berbagai tipu daya seperti permainan “pengembangan hidup”, program jalan-jalan, karaoke, sampai arisan keluarga.

Sementara itu, konsumen sering kali hanya bermodalkan sumber daya terbatas dan keyakinan semata, tanpa analisis menyeluruh dari awal hingga akhir mengenai berbagai risiko yang mungkin terjadi. Di sinilah pentingnya setiap calon pembeli untuk melakukan analisis yang memadai sebagai langkah pencegahan awal, serta melibatkan perjanjian tertulis agar memiliki kekuatan hukum di kemudian hari apabila diperlukan.

Hal ini berbeda dengan kondisi di Eropa dan negara-negara maju lainnya. Di sana, profesi sales umumnya dibekali dengan tingkat pendidikan yang tinggi, kemampuan analisis yang matang, serta dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dengan kombinasi tersebut, risiko terjadinya penipuan atau “jebakan Batman” menjadi jauh lebih kecil.

By Julizar Muttaqin




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Benteng Barat berdiri kokoh di darat, tetapi Melayu membangun benteng yang hidup di lautan—kapal yang bukan hanya alat perang, melainkan simbol kedaulatan yang tak mudah ditaklukkan.

  Jika bangsa Barat dan Cina membangun benteng-benteng tinggi sebagai pusat pertahanan mereka—sebagai simbol kekuatan sekaligus perlindungan...