“Majapahit Yamin” dan Petaka Besar Bangsa Indonesia
Kita mengetahui bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan yang didirikan oleh Raden Wijaya, dengan wilayah teritorial yang pada masanya mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali. Namun, akibat konstruksi pemikiran yang dibangun oleh Muhammad Yamin, Majapahit kemudian diposisikan secara berlebihan dalam narasi kebangsaan, hingga pada akhirnya justru menjadi petaka besar bagi bangsa Indonesia dalam memahami makna NKRI yang sesungguhnya di era dewasa ini.
Perlu diketahui bahwa Muhammad Yamin merupakan Menteri Pendidikan pada era Presiden Soekarno. Ia lahir di Talawi, Sawahlunto, pada 24 Agustus 1903, sebagai putra Usman Baginda Khatib. Yamin meniti karier politik sejak masa pra-kemerdekaan bersama para pelajar dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk dalam peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda. Dalam perjalanan intelektualnya, ia banyak menulis kisah-kisah mengenai Majapahit dan Patih Gajah Mada.
Bersama Soekarno dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya, Yamin terlibat aktif dalam berbagai langkah propaganda politik untuk melawan kolonialisme Belanda di Pulau Jawa. Hal ini tidak terlepas dari posisi Jawa sebagai pusat administrasi dan ekonomi industri pada masa kolonial. Salah satu strategi propaganda awal yang digunakan adalah mengangkat figur Patih Gajah Mada dan narasi Majapahit sebagai legenda pemersatu Nusantara.
Tujuan utama Yamin dalam mengusung narasi Majapahit adalah membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat Jawa guna melawan kebijakan politik Belanda. Pada saat itu, Pulau Jawa memang menjadi pusat pergolakan besar kebangkitan kesadaran kemerdekaan, terutama dari kalangan terpelajar dan tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, serta banyak pemuda lainnya yang terus menggempur pertahanan kolonialisme Belanda.
Namun, dalam konteks Indonesia modern, narasi Majapahit tersebut kerap disalahgunakan seolah-olah menjadi solusi historis utama dalam membentuk NKRI yang sesungguhnya. Pemaknaan semacam ini justru melanggar nilai-nilai sejarah. Kita mengetahui bahwa pada era Majapahit terdapat kerajaan-kerajaan besar lain yang berdaulat dan diakui, seperti Kerajaan Melayu Adityawarman di Sumatra, serta berbagai kerajaan bahari di Sulawesi dan Maluku. Bahkan, Kerajaan Sunda Pajajaran tidak mengakui kedaulatan Majapahit.
Oleh karena itu, menjadikan Majapahit sebagai satu-satunya fondasi historis NKRI bukanlah pendekatan yang utuh. Sejarah Nusantara dibangun oleh banyak peradaban, kerajaan, dan identitas lokal yang setara dan saling berkontribusi.
— Julizar Muttaqin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar